Minggu, 02 Mei 2010

TUGAS PRESENTASI
MATA KULIAH EVALUASI PENGAJARAN BAHASA INDONESIA



TES TERPISAH DAN TERPADU
(DISCRETE POINT TEST AND INTEGRATIVE TESTING)












OLEH

EKA RIHAN K
NIM 10822










KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2009


TES TERPISAH DAN TERPADU
(DISCRETE POINT AND INTEGRATIVE TESTING)

I. Pendahuluan
Kita semua menyadari bahwa bahasa itu penting dalam kehidupan. Dengan bahasa, kita dapat menyampaikan keinginan, pendapat, dan perasaan kita. Dengan bahasa pula kita dapat memahami dan mengetahui apa yang terjadi di dunia dan di lingkungan sekitar kita. Bahasa bukanlah suatu bakat yang dimiliki oleh sebagian orang saja, tetapi setiap orang memiliki kemampuan berbahasa.
Anak-anak telah belajar bahasa dan mengasai bahasa lisan dengan baik jauh sebelum mereka sekolah. Sering kita jumpai anak yang pandai bercerita dengan susunan kalimat yang benar sehingga orang yang mendengarkannya dapat memahami jalan cerita tersebut, ternyata anak tersebut belum bersekolah. Dalam hal ini, anak-anak tidak mempunyai kesulitan dalam belajar bahasa secara nonformal di rumah.
Namun, ketika anak mulai sekolah dan mendapat pelajaran bahasa, keadaan menjadi terbalik. Bahasa yang semula merupakan hal yang mudah dan mengasyikkan berubah menjadi pelajaran yang sulit. Sering kita mendengar orang tua mengeluh tentang anaknya yang mendapat nilai kurang untuk pelajaran bahasa Indonesia, sementara nilai mata pelajaran lain, matematika misalnya, mendapat nilai yang cukup baik.
Pelajaran bahasa yang sebenarnya menyenangkan dan mengasyikkan ternyata jauh dari harapan. Ini disebabkan karena di sekolah, bahasa diajarkan secara terpisah-pisah. Pada umumnya, guru mengajarkan keterampilan berbahasa dan komponen bahasa secara terpisah. Membaca diajarkan pada jam berbeda dengan menulis. Demikian pula pelajaran tentang struktur bahasa dan struktur kosakata atau kesusastraan. Tidak jarang kita temui siswa yang ditugasi membuat kalimat-kalimat lepas untuk melatih pola kalimat tertentu. Dengan sistem mengajar seperti ini, siswa tidak mendapatkan pelajaran bahasa yang utuh, seperti yang mereka pelajari sebelum mereka bersekolah.
Disamping itu, materi yang diajarkan sering terlihat artifisial dan tidak relevan dengan kehidupan siswa sehingga tidak menarik bagi siswa. Pada pelajaran menulis, siswa diminta untuk menulis karangan tentang ”bertamasya ke laut” misalnya, padahal mereka belum pernah melihat laut. Tentu saja siswa akan mendapat kesulitan dalam mengungkapkan pikirannya karena keterbatasan pengalaman mereka.
Dengan mengajarkan bahasa secara terpisah-pisah, sangat sulit untuk memotivasi siswa belajar bahasa karena siswa melihat apa yang dipelajarinya tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka. Untuk memperbaiki pengajaran bahasa, di beberapa negara, seperti Inggris, Australia, New Zealand, Kanada, dan Amerika Serikat mulai menerapkan pendekatan Whole Language pada sekitar tahun 80-an. Whole language adalah satu pendekatan pengajaran bahasa secara utuh, terpadu dan tidak terpisah-pisah dengan menggunakan jenis tes terpadu (Integratve Testing). Namun di sisi lain, terdapat pembelajaran dan tes terpisah (Discrete Point) dalam pembelajaran bahasa. Bentuk tes terpisah dan terpadu (Discrete Point and Integrative Testing) akan dibahas dalam makalah atau laporan bacaan berikut ini.
II. Ringkasan Bacaan
A. Peranan Tes, Pengukuran dan Evaluasi
1. Beda Tes, Pengukuran dan Evaluasi
Tes mepunyai arti yang lebih sempit daripada pengukuran dan evaluasi. Menurut Ratna (1988:4), biasanya secara umum yang dimaksud dengan tes adalah seperangkat butir atau pertanyaan yang dibuat untuk diberikan kepada siswa dodengan syarat-syarat tertentu atau tes adalah prosedur yang sistematik untuk mengobservasi tingkah laku. Arikunto (2005:53) memaparkan bahwa sebelum adanya ejaan yang disempurnakan dalam bahasa Indonesia ditulis test, maka tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Untuk mengerjakan tes ini tergantung dari petunjuk yang diberikan, misalnya: melingkari salah satu huruf di depan pilihan jawaban, menerangkan, mencoret jawaban yang salah, melakukan tugas atau suruhan, menjawab secara lisan, dan sebagainya. Sedangkan Sudijono (2007:66) menyimpulkan bahwa tes adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas, baik berupa pertanyaan-pertanyaan (yang harus dijawab), atau perintah-perintah (yang harus dikerjakan) oleh testee, sehingga atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut) dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee, nilai mana yang dapat dibandingkan dengan nilai stándar tertentu. Sedangkan, menurut Ratna (1988:5), pengukuran adalah prosedur pemberian angka atau nilai pada diri orang-orang sedemikian rupa sehingga hubungan antara orang-orang itu dalam keadaan sebenarnya sehubungan dengan ciri tersebut tetap ada atau dapat juga dikatakan bahwa pengukuran adalah proses yang membedakan 2 atau lebih dari 2 benda/kejadian sejenis. Kemudian, dilihat dari sudut pendidikan, yang dimaksud dengan evaluasi ialah suatu proses sistematik untuk menentukan sampai seberapa jauh tujuan instruksional dicapai oleh siswa. Dengan singkat, menurut Ratna (1988:6) evaluasi dapat dikatakan sebagai deskripsi secara kuantitatif maupun kualitatif tentang siswa. Perbedaan antara tes, pengukuran dan evaluasi dapat dilihat pada situasi berikut.
Seorang guru memberi tes pada siswanya, lalu ia menghitung presentase dari respons siswa yang menjawab dengan benar. Dalam hal ini telah beerlangsung tes dan pengukuran (measurement). Nilai (angka) siswa itu diinterpretasikan, umpamanya menjadi A,B, C, D, dan sebagainya atau penilaian seperti Sangay bagus, bagus, sedang, kurang, dan sebagainya. Proses inilah yang disebut evaluasi, karena terjadi penilaian secara implisit dan eksplisit.
2. Sejarah Perkembangan Tes dan Pengukuran
Sejarah perkembangan tes dan pengukuran dalam pendidikan dimulai dari negara yang pertama menggunakan pengukuran, yaitu negara Tiongkok dalam tahun 2357 SM (Sebelum Masehi). Pada waktu itu Kaisar Shun melaksanakan ujian bagi anggota tentara tiap 3 tahun untuk kenaikan pangkat mereka. Selanjutnya, Dinasti Chou dalam tahun 1122-255 SM melaksanakan ujian masuk sekolah yang diadakan 2 tahun sekali. Pemberian ujian ini diikuti oleh negara Eropa, yaitu di Athena dalam tahun 500-300 SM. Ujian yang diadakan di sini adalah untuk anak-anak muda yang menjadi akil balig. Mereka diuji tentang ketangkasan dalam seni ketentaraan.
Eropa Barat mulai mengadakan ujian dalam tahun 1219 (Sesudah Masehi) di University of Bologna, yaitu ujian untuk magíster dalam ilmu hukum. Dalam tahun 1562, the Merchant’s Taylor School di London mengadakan ujian tahunan untuk mengevaluasi program sekolah. Di London, sekolah yang sama ini juga mulai tahun 1601 mengadakan ujian tertulis selama 9 jam tiap 3 tahun sekali untuk mengevalusi program.
3. Fungsi Tes
Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki tes, yaitu:
1. Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi untuk mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2. Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai.
B. Prinsip-Prinsip dalam Pembuatan Tes
Ada beberapa point yang harus diperhatikan menurut Ratna (1988:20) dalam prinsip-prinsip pembuatan tes, antara lain (1) pentingnya membuat tujuan instruksional khusus, (2) kesesuaian butir tes dengan tujuan instruksional khusus, (3) pentingnya mempunyai keterampilan mengembangkan tes, (4) mengetahui jenis tes, (5) mengetahui tujuan tes, (6) mengetahui butir-butir tes dan pembobotan tes. Sedangkan Arikunto (2005 :57) memaparkan bahwa sebuah tes dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur, harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas, dan ekonomis. Kemudian, Sudijono (2007 :97) memaparkan ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut dapat mengukur tujuan instruksional khusus untuk mata pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan keterampilan peserta didik yang diharapkan, setelah mereka menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu.
Pertama, tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional. Kedua, butir-butir soal tes hasil belajar harus merupakan sampel yang representatif dari populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan, sehingga dapat dianggap mewakili seluruh performance yang telah diperoleh selama peserta didik mengikuti suatu unit pengajaran. Ketiga, bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar harus dibuat bervariasi, sehingga betul-betul cocok mengukur hasilk belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan tes itu sendiri. Keempat, tes hasil belajar harus didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Kelima, tes hasil belajar harus memiliki reliabilitas yang dapat diandalkan. Keenam, tes hasil belajar disamping harus dapat dijadikan alat pengukur keberhasilan hasil belajar siswa, juga harus dapat dijadikan alat untuk mencari informasi yang berguna untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri.

C. Tes Terpisah dan Terpadu (Discrete Point and Integrative Testing)
1. Pengertian Tes Terpisah dan Terpadu (Discrete Point and Integrative Testing)
Brown (2004 :8-9) memaparkan bahwa tes terpisah atau discrete point tests dilakukan berbentuk komponen penilaian untuk mengukur kemampuan peserta didik secara terpisah, misalnya komponen kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis, dan variasi unit bahasa dari fonologi, grafologi, morfologi, leksikon, kalimat dan wacana. Sedangkan tes terpadu (integrative testing) merupakan tes yang mengukur kemampuan peserta didik secara utuh, terpadu, yang di dalam tes tersebut terdapat kompetensi kebahasaan dalam pembelajaran, disajikan secara terpadu (terlesap) dengan kompetensi yang lainnya seperti bentuk tes dikte pada peserta didik.
Sejalan dengan pendapat Brown mengenai tes terpisah dan tes terpadu, Hughes mengemukakan macam-macam teknis pengetesan dengan pasangan kontras, yaitu pengetesan langsung dan tidak langsung (direct versus indirect testing), pengetesan dengan butir terpisah dan terpadu (discrete point versus integrative testing), pengetesan dengan acuan norma dan acuan kriteria (norm-referenced versus subjective testing), dan pengetesan bahasa yang komunikatif (communicative language testing). Pengetesan dengan butir terpisah (discrete point) merujuk kepada pengetesan salah satu unsur pada suatu waktu, butir demi butir. Pengetesan terpadu (integrative testing), sebaliknya menuntut calon untuk menggabungkan beberapa unsur bahasa dalam menyelesaikan suatu tugas. (Hughes,1989:14-19) dalam http://guru-umarbakri.blogspot.com/2009/06/kajian-bahasa.html, diakses 13 Oktober 2009.
2. Tes Terpisah (Discrete Point Tests)
Tes terpisah (discrete point tests) menurut Santosa (2006 : 73) meliputi aspek keterampilan membaca, menulis, berbicara dan menyimak atau mendengarkan, dilakukan secara terpisah. Penilaian membaca, terkait dengan pengukuran kemampuan memahami bahasa tulis, sedangkan penilaian menulis berhubungan dengan pengukuran kemampuan menggunakan bahasa tulis sebagai alat komunikasi. Sejalan dengan hal tersebut, penilaian menyimak atau mendengarkan berkaitan dengan penilaian kemampuan memahami bahasa lisan, sedangkan penilaian berbicara, berkaitan dengan penilaian kemampuan menggunakan bahasa lisan.
a. Penilaian Membaca
Kemampuan membaca siswa banyak ditentukan oleh pengalamannya membaca dan kemampuannya menguasai pengetahuan yang berkaitan dengan aspek-aspek kebahasaan, misalnya kosakata dan struktur. Jika siswa diberi topik bacaan yang telah dikenalnya, mereka akan dengan mudah dapat memahami isi bacaan. Aspek terpenting dalam penilaian membaca adalah pemahaman. Karenanya, alat yang paling tepat digunakan untuk menguji kemampuan membaca siswa SD, menurut Santosa (2006:73) yaitu tes pemahaman kalimat dan tes pemahaman wacana. Tes pemahaman kalimat biasa digunakan untuk mengukur kemampuan siswa memahami fungís kosakata dan struktur dalam kalimat. Ada dua cara yang dapat digunakan guru dalam menyusun tes pemahaman kalimat, yaitu menyajikan gambar dan menyajikan kata atau frase untuk pilihan jawabannya. Sedangkan tes pemahaman wacana dapat terdiri dari tes pilihan ganda dan tes isian rumpang (close procedure).
b. Penilaian Menulis
Beberapa tes yang biasa digunakan dalam pembelajaran menulis adalah tes pratulis, tes menulis terpandu, tes menulis bebas. Tes pratulis dinamakan juga tes respon terbatas. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengunakan kosakata dan struktur dalam menulis. Wujudnya berupa penggabungan kalimat atau penyusunan kalimat dengan menggunakan kata-kata yang diberikan secara acak. Sedangkan tes menulis terpandu, dapat disusun dengan mudah dan cepat serta dapat digunakan untuk mengukur kemampuan menulis siswa secara lebih efektif, sebab guru dapat mengontrol dengan bahasa siswa yang tidak siap menulis dengan bahasanya sendiri. Selanjutnya, tes menulis bebas dapat mengukur kemampuan menulis siswa secara menyeluruh. Tes ini memungkinkan siswa untuk mengungkapkan gagasannya secara bebas ke dalam bentuk tulisan.
c. Penilaian Menyimak atau Penilaian Mendengarkan
Kemampuan menyimak adalah kemampuan memahami isi ujaran. Ada beberapa faktor yang mempunyai pertalian erat yang sangat erat dengan kemampuan ini. Pertama, faktor fisik berupa alat penyimak atau pendengaran dan situasi lingkungan tempat berlangsungnya kegiatan menyimak. Kedua, faktor kebahasaan berupa kosakata dan struktur. Ketiga, faktor isi, berupa pesan yang disampaikan melalui wacana lisan. Ketiga faktor itu selalu muncul bersamaan dalam setiap peristiwa menyimak. Penilaian pembelajaran menyimak di sekolah, lebih ditekankan pada aspek kognitif. Oleh sebab itu, teknik pengukurannya lebih ditekankan pada penggunaan teknik tes. Butir-butir soal tes dalam penilaian menyimak, diberikan secara lisan, baik langsung maupun melalui media rekaman, sedangkan jawabannya dapat dibuat secara tertulis. Ada tiga jenis tes yang dapat digunakan dalam penilaian pembelajaran menyimak, yaitu tes respons terbatas, tes respons pilihan ganda, dan tes komunikasi luas.
Bentuk tes respons terbatas ini memungkinkan siswa menjawab secara verbal dan nonverbal. Bentuk tes ini terbatas mencakup tes benar-salah, tes ya- tidak, dan tes pilihan gambar. Bentuk tes ini hanya memerlukan jawaban benar atau salah, ya atau tidak, dan memilih salah satu dari dua pilihan gambar yang tersedia.
Bentuk tes respons pilihan ganda hampir sama dengan tes respons terbatas. Wujud pilihan jawaban pada tes respons pilihan ganda berupa kata, frase, atau kalimat. Bentuk tes respons pilihan ganda menuntut siswa untuk memahami pernyataan atau pertanyaan yang diperdengarkan secara langsung atau melalui media rekaman.
Tes komunikasi luas muncul disebabkan bahasa merupakan sarana komunikasi verbal dan menyimak merupakan salah satu bentuk kegiatan berbahasa. Selain itu, kegiatan menyimak dilakukan setiap hari oleh siswa di sekolah dan di mana saja. Penilaian dengan menggunakan tes ini menuntut siswa untuk memahami penggalan dialog (percakapan) atau ceramah (pembicaraan), seperti yang biasa dilakukan dalam kesehariannya.
d. Penilaian Berbicara
Ada tiga jenis tes yang dapat digunakan guru untuk mengukur kemampuan berbicara siswa, yaitu tes respons terbatas, tes terpandu, dan tes wawancara. Tes respons terbatas digunakan untuk mengukur kemampuan berbicara siswa secara terbatas atau secara singkat. Yang termasuk ke dalam jenis tes ini adalah tes respons terarah, tes penanda gambar, dan tes berbicara nyaring.
Tes terpandu melibatkan panduan dari guru untuk mendorong siswa menampilkan kemampuan berbicaranya. Tes ini meliputi tes parafrase, tes penjelasan, dan tes bermain peran. Sedangkan tes wawancara tidak hanya menanyakan nama, usia, pekerjaan, kepada orang yang kita wawancarai. Selama berwawancara, siswa pewawancara harus bersikap wajar, tidak dibuat-buat, dan tidak bersikap kasar.
3. Tes Terpadu (Integrative Testing)
Tes terpadu (Integrative Testing) berkaitan dengan pendekatan whole language dalam pembelajaran bahasa. Whole language adalah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah (Edelsky, 1991 dalam Santosa, 2006:23). Whole language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan di mana bahasa diajarkan secara utuh dan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis) diajarkan secara terpadu. Menerapkan whole language memang agak sulit karena tidak ada acuan yang benar-benar mengaturnya. Namun, pembelajaran whole language dan beserta tes terpadu dapat diterapkan dengan mengetahui komponen-komponen yang terdapat dalam whole language.
Menurut Routman (1991) dan Froose (1991) dalam Santosa (2006 :24), ada delapan komponen whole language, yaitu : (1) reading aloud, (2) jurnal writing, (3) sustained silent reading, (4) share reading, (5) guided reading, (6) guided writing, (7) independent reading, (8) independent writing.
a. Reading Aloud
Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya. Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam buku teks atau buku cerita lainnya dan membacakannya dengan suara keras dan intonasi yang baik sehingga setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati ceritanya. Kegiatan reading aloud ini sangat bermanfaat, antara lain meningkatkan keterampilan menyimak, memperkaya kosakata, membantu meningkatkan membaca pemahaman, dan yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan minat baca pada siswa.
b. Jurnal Writing
Bagi guru yang akan menerapkan whole language, menulis jurnal (journal writing) adalah komponen yang dapat dengan mudah diterapkan. Jurnal merupakan sarana yang aman bagi siswa untuk mengungkapkan perasaannya, menceritakan kejadian di sekitarnya, membeberkan hasil belajarnya, dan menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan. Banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan menulis jurnal, antara lain: (1) meningkatkan kemampuan menulis, karena dengan menulis jurnal siswa akan terbiasa mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan yang kemudian membantunya untuk mengembangkan kemampuan menulis. (2) meningkatkan kemampuan membaca, seperti siswa secara spontan akan membaca hasil tulisannya sendiri setiap ia selesai menulis jurnal. Dengan cara ini, tanpa disadaro siswa melatih kemampuan membacanya dengan menulis jurnal siswa tersebut juga meningkatkan kemampuan membaca. (3) menumbuhkan keberanian mengambil resiko, ini berarti menulis jurnal bukanlah kegiatan yang harus dinilai makula siswa tidak perlu takut untuk berbuat salah. Kesempatan ini dapat digunakan sebagai sarana untuk bereksplorasi. (4) memberi kesempatan untuk membuat refleksi apa yang telah dipelajarinya atau dilakukannya. (5) memvalidasi pengalaman dan perasaan pribadi, seperti kejadian apa saja yang dialami siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah dapat diungkapkan dengan jurnal. (6) memberikan tempat yang aman ddan rahasia untuk menulis, dalam artian, jurnal digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan pribadi. Jurnal ini sering disebut diary atau buku harian. (7) meningkatkan kemampuan berpikir, dengan meminta siswa menulis jurnal, mereka berusaha mengingat kembali, memilih kejadian mana yang akan diceritakan, dan menyusun informasi yang dimiliki menjadi cerita yang dipahami pembaca. (8) meningkatkan kesadaran akan peraturan menulis, seperti melalui jurnal, siswa belajar tata cara menulis, seperti penggunaan huruf besar, tanda baca dan struktur kalimat. Siswa juga mulai menulis dengan menggunakan topik, judul, halaman dan subtopik. (9) menjadi alat evaluasi dan menjadi dokumen tertulis.
c. Sustained Silent Reading
Sustained Silent Reading adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibacanya. Pesan yang ingin disampaikan kepada siswa melalui kegiatan ini adalah membaca adalah kegiatan penting yang menyenangkan, membaca dapat dilakukan oleh siapa pun, membaca berarti kita berkomunikasi dengan pengarang buku tersebut, siswa dapat membaca dan berkonsentrasi pada bacaannnya pada waktu yang cukup lama, guru percaya bahwa siswa memahami apa yang mereka baca, siswa dapat berbagi pengetahuan yang menarik dari materi yang dibacanya setelah kegiatan ini berakhir.
d. Shared Reading
Shared reading adalah kehiatan membaca bersama antara guru dan siswa, di mana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya. Kegiatan ini dapat di lakukan baik di kelas rendah maupun di kelas tinggi. Ada beberapa cara untuk melakukan kegiatan ini, yaitu: (a) guru membaca dan siswa mengikutinya (untuk kelas rendah); (b) guru membaca dan siswa menyimak sambil melihat bacaan yang tertera pada buku; (c) siswa membaca bergiliran.
Maksud kegiatan ini adalah (a) sambil melihat tulisan, siswa berkesempatan untuk memperhatikan guru membaca sebagai model; (b) memberikan kesempatan untuk memperlihatkan keterampilan membacanya; (c) siswa yang masih kurang terampil dalam membaca, mendapat contoh membaca yang benar.
e. Guided Reading
Guided Reading disebut juga membaca terbimbing guru, menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam membaca terbimbing, penekanannya bukan dalam cara membaca itu sendiri, tetapi lebih pada membaca pemahaman. Dalam guided reading, semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama. Guru melemparkan pertanyaan yang meminta siswa menjawab dengan kritis, bukan sekedar pertanyaan pemahaman. Kegiatan ini merupakan kegiatan membaca yang penting dilakukan di kelas.
f. Guided Writing
Guided Writing adalah menulis terbimbing. Dalam menulis terbimbing peran guru adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaimana menulisnya dengan jelas, sistematis dan menarik. Guru bertindak sebagai pendorong bukan pengatur, sebagai pemberi saran bukan penberi petunjuk. Dalam kegiatan ini, proses guided writing, seperti memilih topik, membuat draft, memperbaiki dan mengedit dilakukan sendiri oleh siswa.
g. Independent Reading
Independent reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, di mana siswa berkesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. Membaca bebas merupakan bagian integral dari whole language. Dalam independent reading, siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator dan pemberi respons.
Menurut penelitian yang dilakukan Anderson dkk. (1988), pembaca bebas yang diberikan secara rutin walaupun hanya 10 menit sehari dapat meningkatkan kemampuan membaca pada siswa. Inti independent reading adalah membantu siswa meningkatkan kemampuan pemahamannya, mengembangkan kosa kata, melancarkan membaca, dan secara keseluruhan memfasilitasi membaca.


g. Independent Writing
Independent writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Siswa bertangung jawab sepenuhnya dalam proses menulis. Jenis menulis yang termasuk dalam independent writing antara lain menulis jurnal dan menulis respon.
III. Aplikasi dalam Penilaian
1. Aplikasi dalam Penilaian Tes Terpisah (Discrete Point Tests)
a. Aplikasi Penilaian Tes Terpisah (Discrete Point Tests) pada Tes Keterampilan Menyimak atau Mendengarkan, pada jenis Tes Komunikasi Luas

Aspek penilaian tes terpisah dapat dilihat pada jenis komunikasi luas, yaitu pada standar kompetensi aspek mendengarkan pada kelas V semester 2 SD antara lain: memahami cerita tentang suatu peristiwa dan cerita pendek anak yang disampaikan secara lisan. Kompetensi dasarnya antara lain: (1) menanggapi cerita tentang peristiwa yang terjadi di sekitar yang disampaikan secara lisan, (2) mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, tema, latar, amanat). Kepada siswa diperdengarkan cerita tentang peristiwa yang terjadi di sekitar yang disampaikan secara lisan, beserta pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
Bisnis adalah transaksi jual beli, sehingga penjual dan pembeli merasa puas. Untuk tingkat kepuasan, ukurannya perasaan untung. Komponen laba yakni penjualan dikurangi biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead. Pada garis besarnya, bisnis digolongkan menjadi dua sub, yaitu bisnis jasa dan nonjasa. Jenis bisnis jasa dapat berupa konsultan, pendidikan, persewaan, makelar, dan lain-lainya. Sedangkan jenis bisnis nonjasa adalah yang menghasilkan produksi dalam bentuk fisik.

Pertanyaan 1
Apakah bisnis itu?
(JEDA 20 DETIK)
Pertanyaan 2
Apa yang menjadi ukuran tingkat kepuasan itu?
(JEDA 20 DETIK)

Pertanyaan 3
Produksi dalam bentuk apa yang dihasilkan oleh bisnis nonjasa?
(JEDA 20 DETIK)
Pada lembar jawaban yang dipegang siswa terdapat 3 nomor jawaban, masing-masing mempunyai 4 pilihan jawaban yang harus dipilih salah satunya.
(1) a. Proses jual beli
b. Transaksi jual beli
c. Peristiwa jual beli
d. Aktivitas Jual Beli
(2) a. Perasaan senang
b. Perasaan Bangga
c. Perasaan puas
d. Perasaan untung
(3) a. Dalam bentuk fisik
b. Dalam bentuk uang
c. Dalam bentuk nonjasa
d. Dalam bentuk transaksi

b. Aplikasi Penilaian Tes Terpisah (Discrete Point Tests) pada Tes Keterampilan Berbicara pada jenis Tes Wawancara

Aspek penilaian tes terpisah pada jenis tes wawancara dapat dilihat pada standar kompetensi aspek berbicara pada kelas V semester 1 SD antara lain: mengungkapkan pikiran, pendapat, perasaan, fakta secara lisan dengan menanggapi suatu persoalan, menceritakan hasil pengamatan, atau berwawancara. Kompetensi dasarnya antara lain: (1) menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dan memberikan saran pemecahannya dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa, (2) menceritakan hasil pengamatan/kunjungan dengan bahasa runtut, baik dan benar, (3) berwawancara sederhana dengan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll.) dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa.
Aplikasi penilaian tes terpisah (Dicrete Point Tests) pada Tes Keterampilan Berbicara diambil dalam bentuk tes wawancara sesuai standar dan kompetensi dasar. Siswa dilibatkan dan ditugaskan langsung untuk melakukan wawancara kepada narasumber. Misalnya narasumber itu bekerja sebagai sebagai petugas kebersihan sekolah dan terpilih sebagai karyawan teladan di mana siswa itu bersekolah. Inti penilaian wawancara tersebut terletak pada pilihan kata dan santun berbahasa dalam wawancara. Petikan wawancara dapat dilihat sebagai berikut.
Siswa A : ” Selamat ya pak, atas terpilihnya bapak sebagai karyawan teladan di sekolah ini. Wah, tentu bapak senang menerima kehormatan itu. Bagaimana perasaan bapak saat ini?”
Karyawan : ” Oh, terima kasih. Ya, sangat senang sekali. Saya tidak menyangka bakal terpilih sebab saingan saya banyak sekali.
Siswa A :” Bapak tampak senang sekali waktu diwawancarai oleh Kepala Dinas Pendidikan kota kita. Apa rahasianya sehingga bapak dapat terpilih sebagai karyawan teladan di sekolah kita?
Karyawan : Biasa saja. Saya selalu berusaha menjalankan tugas dengan dsiplin dan sungguh-singguh tanpa adanya unsur keterpaksaan dan di bawah tekanan dari siapa pun. Intinya, menjalankan tugas itu merupakan amanah dan merupakan kesadaran dari hati nurani saya sendiri.
Siswa B :”Oh, bel sudah berbunyi. Terima kasih ya pak. Bapak telah bersedia meluangkan waktunya untuk kami wawancarai. Kami masuk dulu ya pak.
Karyawan : ”Ya, sama-sama.

Wawancara dapat dijadikan sebagai contoh wjud kegiatan berbahasa yang sebenarnya, tetapi waktu yang diperlukan untuk itu cukup banyak.




c. Aplikasi Penilaian Tes Terpisah (Discrete Point Tests) pada Tes Keterampilan Menulis pada jenis Tes Menulis Bebas

Aspek penilaian terpisah dapat dilihat pada jenis tes menulis bebas yang terdapat pada standar kompetensi aspek menulis pada kelas V semester 1 SD antara lain: mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan, dan dialog tertulis. Kompetensi dasarnya antara lain (1) menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatkan pilihan kata dan penggunaan ejaan, (2) menulis surat undangan (ulang tahun, acara agama, kegiatan sekolah, kenaikan kelas, dll) dengan kalimat efektif dan memperhatikan penggunaan ejaan, (3) menulis dialog sederhana antara dua atau tiga tokoh dengan memperhatikan isi serta perannya.
Keterampilan menulis pada jenis tes menulis bebas ini, siswa diminta menulis secara bebas dengan rambu-rambu yang telah diberikan guru, seperti menulis karangan bebas dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan. Tes ini dapat mengukur kemampuan siswa secara menyeluruh dan memungkinkan siswa mengungkapkan gagasannya secara bebas ke dalam bentuk tulisan. Contoh menulis tes bebas dapat berbentuk sebagai berikut:
a. Pilih salah satu topik berikut, kemudian kembangkan menjadi sebuah karangan yang lengkap! (1) Manfaat menabung, (2) Kebersihan Lingkungan sekolah, (3) Kejadian yang Tak Terlupakan.
b. Pada liburan yang akan datang, kamu akan mengunjungi kakekmu yang tinggal di kota lain. Agar yang akan kamu kunjungi itu tidak terkejut menerima kedatanganmu, kirimkan kabar terlebih dahulu kepadanya. Ceritakan, naik apa, kapan, dan dengan siapa kamu berangkat!




d. Aplikasi Penilaian Tes Terpisah (Discrete Point Tests) pada Tes Keterampilan Membaca pada jenis Tes Pemahaman Wacana

Aplikasi penilaian tes terpisah pada standar kompetensi aspek membaca pada kelas V semester 1 SD antara lain : memahami teks dengan membaca teks percakapan, membaca cepat 75 kata/menit dan membaca puisi. Kompetensi dasarnya antara lain : (1) membaca teks percakapan dengan lafal dan intonasi yang tepat, (2) menentukan gagasan utama suatu teks yang dibaca dengan kecepatan 75 kata per menit, (3) membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat. Aplikasi penilaian tes terpisah (Discrete Point Tests) pada Tes Keterampilan Membaca dapat dilihat pada jenis tes pemahaman wacana berikut ini.
Bacalah teks berikut dengan cermat ! kemudian, jawablah pertanyaan-pertanyaan yang tersedia di bawahnya dengan menandai salah satu huruf di depan jawaban yang kamu pilih !
Lebih dari semiliar penduduk dunia hidup dala kemiskinan dan keadaan ini akan terus berlangsung kendatipun telah diupayakan beberapa perbaikan. Bak dunia melaporkan hal ni sebagai perbaikan dari data lama yang dihimpunnya pada tahun 1990.
Pada data lama disebutkan, penduduk bumi yang hidup dalam kemiskinan tercatat 1,1 miliar orang. Mereka hidup dengan pendapatan per hari Rp. 2.000,00 ini standar yang digunakan Bank Dunia untuk mengategorikan kemiskinan.
Pertanyaan :

1. Apa pokok uraian yang dibicarakan dalam teks di atas ?
a. Kependudukan
b. Kemiskinan
c. Kelaparan
d. Bank Dunia
2. Berapa orang jumlah penduduk yang hidup miskin menurut data lama Bank Dunia ?
a. 2 miliar
b. 1,1 miliar
c. 2 juta
d. 1,1 juta.
3. Bagaimana standar yang digunakan bank Dunia untuk mengategorikan kemiskinan ?
a. Jika seseorang tidak memiliki rumah
b. Jika seseorang hidup sebagai tuna karya
c. Jika seseorag tidak mempunyai mata pencaharian tetap
d. Jika seseorang berpenghasilan Rp. 2.000, 00 per hari.

2. Aplikasi dalam Penilaian Tes Terpadu (Integrative Tests)
Aspek penilaian tes terpadu (Integrative Test) dapat dilihat pada jenis tes pembelajaran rading aloud yang melibatkan aspek membaca, menulis, dan mendengarkan. Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya. Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam dalam buku teks atau buku cerita lainnya dan membacakannya dengan suara keras dan intonasi yang baik sehingga setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati ceritanya.
Kegiatan reading aloud ini sangat berrmanfaat, antara lain meningkatkan keterampilan menyimak, memperkaya kosakata, membantu meningkatkan membaca pemahaman, dan yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan minat baca pada siswa. Kegiatan pembelajaran ini terlihat pada standar kompetensi aspek membaca pada kelas I semester 2 SD, antara lain : memahami teks pendek dengan membaca nyaring. Kompetensi dasarnya antara lain : (1) membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat, (2) membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat.
Tahap penilaian pada kegiatan membaca nyaring ini dapat melibatkan aspek mendengarkan atau menyimak, menulis dan berbicara, karena dalam proses membaca nyaring ini terdapat aspek penilaian pembelajaran reading aloud yang merupakan komponen dari Whole language (pembelajaran terpadu), yaitu sebagai berikut :
1. Penilaian pengamatan
Penilaian di sini sebenarnya sudah dapat dilakukan sejak awal pembelajaran di mulai atau dalam proses. Untuk memantau kemajuan ketepatan lafal dan intonasi dengan cara mengenal, membedakan, dan mengucapkan huruf atau fonem yang penekanannya pada fonem/huruf a, I, n, m. Guru dapat membuat tes berupa tiga sampai lima kalimat yang diambil dari teks pendek yang telah dipahami siswa dalam pembelajaran membaca nyaring atau reading aloud dan teks tersebut mengandung fonem a, I, n, m. Tes dilakukan secara individiual dengan menggunakan tabel berikut :
No Nama Pengenalan Huruf Ucapan/lafal Intonasi Catatan
1.
2.
3.
4. Ana
Ima
Ani
Ami Ana
Ani
Nina
Ami [Ana]
[Ani]
[Nina]
[Ami]

2. Penilaian berupa tugas :
Siswa ditugasi/dilatih menuliskan kalimat-kalimat berikut dengan huruf pisah.
a) ini mama iman
b) mana mama mimi dan nini
c) ini mami aan

IV. Refleksi dan Simpulan
Whole language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang didasari oleh paham constructivism. Dalam whole language, bahasa diajarkan secara utuh, tidak terpisah-pisah; menyimak, berbicara, membaca dan menulis diajarkan secara terpadu (integrated) sehingga siswa dapat melihat bahasa sebagai suatu kesatuan, sehingga terkait dengan tes terpadu (integrative testing). Pendekatan whole language yang berkaitan dengan dengan pembelajaran terpadu ini dipergunakan untuk memperbaiki pengajaran bahasa yang siswanya mengalami kesulitan mengungkapkan pikiran karena keterbatasan pengalaman mereka. Dengan mengajarkan bahasa secara terpisah-pisah, sangat sulit untuk memotivasi siswa belajar bahasa karena siswa melihat apa yang telah dipelajarinya tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka.
Selain pembelajaran terpadu, pada dasarnya tujuan orang belajar bahasa agar pembelajar terampil berbahasa. Komuikasi berjalan dengan baik jika pembelajar terampil menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Agar terampil dalam keempat keterampilan berbahasa tersebut, mereka perlu menguasai hal-hal yang berkaitan dengan aspek kebahasaan, seperti: fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik, sehingga aspek menyimak, berbicara, menulis dan membaca disajikan secara terpisah (Discrete Point Tests).
Pembelajaran terpadu sangat sulit diterapkan karena tidak ada acuan yang benar-benar mengaturnya. Namun, pembelajaran tersebut dapat diterapkan dengan komponen-komponen whole language, meliputi: reading aloud, jurnal writing, sustained silent reading, share reading, guided reading, guided writing, independent rading, independent writing.
Sumber Bacaan
Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Brown, H. Douglas. 2001. Teaching by Principles An Interactive Approach to Language Pedagogy, Second Edition. New York: Addision Wesley Longman Inc.
________________. 2004. Language Assesment Principles and Classroom Practices. New York: Pearson Education Inc.
Cangelosi, James S. 1990. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Terjemahan oleh Tedjasudjana, D. 1995. Bandung: Penerbit ITB.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2007. Kurikulum Pendidikan Dasar – Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Sekolah Dasar, Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
http://guru-umarbakri.blogspot.com/2009/06/kajian-bahasa.html, diakses 13 Oktober 2009.
R. Ratna Sajekti. 1988. Tes dan Pengukuran dalam Bahasa. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Santosa Puji. Dkk. 2006. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sudijono, Anas. 2007. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Penerbit SIC.

1 komentar: