Rabu, 08 Desember 2010

Soal UTS Kunto UniLak

Soal Ujian Tengah Semester (UTS)
Mata Kuliah : Keterampilan Menyimak
Kode Mata Kuliah: MKB 162
Jurusan/Program Studi : Pendidikan Bahasa Indonesia (S1)
Fakultas/Universitas : STKIP Pelita Bangsa Kelas Khusus Kunto Darussalam – UniLak Riau.
Tahun Akademik : 2010-2011
Semester: I
Bobot : 2 Sks
Dosen: Eka Rihan K., S. Pd., M. Pd.


1. Jelaskan hubungan keterampilan menyimak dan berbicara berdasarkan pernyataan berikut ini!
a. Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi); oleh karena itu, model atau contoh yang disimak serta direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan serta kecakapan berbicara.
b. Bunyi suara merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata sang anak; oleh karena itu maka sang anak akan tertolong kalau dia mendengar serta menyimak ujaran-ujaran yang baik dan benar dari para guru, rekaman-rekaman yang bermutu, cerita-cerita yang bernilai tinggi, dan lain-lain.
2. Jelaskan 4 langkah pembelajaran menyimak jika dihubungkan dengan proses pembelajaran mendengarkan pembacaan puisi siswa di kelas!
3. Jelaskan batasan dan pengertian menyimak!
4. Adakah persamaan antara 9 tahapan menyimak menurut Strickland dan Anderson? Jelaskan jika ada!
5. Jelaskan tujuan menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide!
6. Dalam hal menyimak seperti apakah menyimak ekstensif dan menyimak intensif dapat digunakan? Berikan contoh!
7. Jelaskan 5 tahap dalam proses kemampuan menyimak Siswa Kelas V dan Kelas VI (9.5 - 12 tahun)!
8. Apa upaya Anda untuk menjadi penyimak tepat guna apabila Anda sedang berada pada suasana menyimak yang bersifat defensif dalam menyimak berita di televisi?
9. Mengapa anggapan bahwa “mendengar dan menyimak itu sama saja” dapat menimbulkan kesalahpahaman? Jelaskan!
10. Jelaskan cara mengatasi kebiasaan jelek dalam menyimak lompat tiga!



Selamat bekerja dan Semoga Sukses

Bab II Kajian Pustaka

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Keterampilan Menulis Makalah
Menulis sebagai suatu komponen keterampilan berbahasa membutuhkan keahlian dari seseorang dalam menggunakan bentuk bahasa tulis untuk komunikasi, seperti yang diperlukan oleh calon guru madrasah ibtidaiyah. Keraf (1997:48) mengemukakan bahwa keterampilan menulis sebagai salah satu kegiatan membentuk sintaksis sebagai pengetahuan dasar kebahasaan ditambah dengan beberapa kemampuan menalar pengetahuan yang baik tentang garapannya. Selanjutnya Halim (1974:49) menambahkan bahwa keterampilan menulis adalah keterampilan mengorganisasikan unsur-unsur sebagai berikut: (a) isi karangan, (b) bentuk karangan, (c) tata bahasa, (d) gaya atau pilihan struktur kosa kata, (e) penerapan ejaan dan penggunaan tanda baca serta (f) kemampuan perencanaan dan evaluasi tulisan. Pemaparan Halim mengenai keterampilan menulis tidak jauh berbeda dengan Syafei, yang juga menyinggung kemampuan perencanaan dan evaluasi tulisan. Syafei (1988:19) memaparkan bahwa menulis adalah (a) keterampilan menemukan masalah yang ditulis, (b) kepekaan terhadap kondisi, (c) keterampilan merencanakan tulisan, baik keterampilan memulai, melaksanakan penulisan, maupun tindak lanjut setelah karangan selesai, dan (d) keterampilan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Lain halnya dengan Tarigan dan Semi yang menyatakan menulis itu berkaitan dengan suatu proses memerankan lambang bahasa yang dapat dipahami orang lain. Tarigan (1994:21) menyatakan menulis sebagai suatu proses dalam memerankan atau melukiskan lambang-lambang atau grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dapat dipahami orang lain. Semi (1990:80) mengungkapkan, menulis merupakan perpindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa. Dengan kata lain, menulis adalah menyampaikan pikiran dan perasaan dalam bentuk bahasa tulis dengan menggunakan lambang. Pada dasarnya, pernyataan Semi dan pernyataan Gie terdapat kemiripan mengenai menulis merupakan ungkapan lambang bahasa dalam bentuk buah pikiran bahasa tulis yang dapat dimengerti dan dipahami orang lain. Gie (2002:90) menyimpulkan bahwa menulis adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan buah pikirannya melalui bahasa tulis untuk dibaca dan dimengerti oleh orang lain. Buah pikiran itu dapat berupa pengalaman, pendapat, pengetahuan, keinginan, perasaan sampai gejolak kalbu seseorang. Buah pikiran itu dapat dipaparkan dalam bentuk makalah ilmiah.
Djuharie (2005:68) memaparkan bahwa menulis makalah ilmiah adalah suatu bentuk kegiatan karya tulis ilmiah mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup suatu perkuliahan dan merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan suatu perkuliahan. Kegiatan penelitian, pengembangan dan evaluasi disebut sebagai kegiatan ilmiah apabila yang dipermasalahkan berada pada kawasan ilmu dan menggunakan metode berpikir ilmiah dalam pengkajiannya. Karya tulis ilmiah, menurut Aqib (2004:14) memiliki ciri khas yaitu: kebenarannya, metode kajiannya, dan tata cara penulisannya bersifat keilmuan. Format penulisan ilmiah beragam mulai dari laporan ilmiah yang berbentuk buku atau artikel sampai dengan gagasan yang ditulis melalui media massa.
Tidak semua karya tulis itu merupakan karya tulis ilmiah (ilmiah artinya mempunyai sifat keilmuan). Suatu karya tulis, apakah itu berbentuk laporan, makalah, buku maupun terjemahan, baru dapat disebut karya tulis ilmiah apabila sedikitnya memiliki tiga syarat menurut Aqib (2004:14), yaitu: (1) isi kajiannya pada lingkup pengetahuan ilmiah, (2) langkah pengerjaannya dijiwai atau menggunakan metode ilmiah (metode berpikir ilmiah), (3) sosok tampilannya sesuai dan telah memenuhi persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan.
Dari beberapa uraian tersebut jelas bahwa keterampilan menulis makalah merupakan keterampilan seseorang mengungkapkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan ilmiah yang membahas dan menyelesaikan masalah pada suatu topik tertentu dalam ruang lingkup suatu perkuliahan dengan memperhatikan syarat, ciri dan struktur karya ilmiah dengan memperhatikan aspek-aspek karangan seperti isi, bentuk, tata bahasa, gaya bahasa, struktur, pilihan kata dan kosakata. Selain itu menulis dan belajar merupakan suatu proses terpadu yang menjelaskan, menemukan, menciptakan dan menghubungkan interaksi kata dengan gagasannya, dengan memerhatikan isi karangan, tata bahasa dan gaya bahasa.
Makalah merupakan karya ilmiah tetapi lebih khusus bila dibandingkan dengan karya tulis lainnya. Makalah lebih difokuskan pada karya tulis yang dibacakan di muka umum seperti dalam bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok, seminar atau lokakarya (Anwar Hasnun dalam Komaidi, 2007:153). Selanjutnya, Komaidi (2007:153) memaparkan bahwa dikalangan pelajar sesuai tingkat pemikiran mereka, guru mata pelajaran atau dosen mata kuliah tertentu biasanya menugaskan siswa (mahasiswa) untuk menulis makalah yang membahas topik tertentu sesuai materi yang sedang dipelajari. Anwar Hasnun dalam Komaidi (2007:154) memaparkan bahwa ciri makalah ilmiah memenuhi unsur logis, obyektif, sistematis, jelas, dan kebenarannya dapat diuji. Menurut Djuharie (2005:68), suatu makalah ilmiah memiliki karakteristik sebagai berikut:
(1) merupakan hasil kajian literatur dan atau laporan pelaksanaan suatu kegiatan lapangan sesuai dengan cakupan permasalahan suatu perkuliahan (2) mendemonstrasikan pemahaman mahasiswa tentang permasalahan teoritik yang dikaji atau kemampuan mahasiswa dalam menerapkan suatu prosedur, prinsip, atau teori yang berhubungan dengan perkuliahan, (3) menunjukkan kemampuan terhadap isi dari berbagai sumber yang digunakan, (4) mendemonstrasikan kemampuan meramu berbagai sumber informasi dalam satu kesatuan sintesis yang utuh.
Ada dua jenis makalah yang berlaku di perguruan tinggi menurut Djuharie (2005:68-69), yaitu: makalah biasa (ordinary paper) dan makalah posisi (position paper). Makalah biasa dibuat mahasiswa untuk menunjukkan pemahamannya terhadap permasalahan yang dibahas. Dalam makalah ini secara deskriptif, mahasiswa diperkenankan mengemukakan berbagai aliran atau pandangan yang ada tentang masalah yang dikaji. Ia juga boleh memberikan pendapat baik berupa kritik atau saran mengenai aliran atau pendapat yang dikemukakan. Tetapi dia tidak perlu memihak salah satu aliran atau pendapat tersebut. Dengan demikian dia tidak perlu berargumentasi mempertahankan pendapat tersebut. Sedangkan pada makalah posisi mahasiswa diminta tidak hanya menujukkan penguasaan pengetahuan tertentu tapi juga dipersyaratkan untuk menunjukkan di pihak mana ia berdiri. Makalah yang digunakan dalam penelitian ini lebih bersifat informatif dan merupakan makalah biasa (Ordinary Paper). Jenis makalah ini akan melalui tahap penilaian dari segi isi dan penulisan. Frick (2008:51) memaparkan beberapa komponen yang dapat digunakan dalam penilaian makalah ilmiah sebagai berikut:
Tabel 1. Penilaian Makalah Ilmiah
Penilaian Makalah Ilmiah Nilai Bobot Nilai Akhir
Keilmuan (mutu, substansi) 10%
Cara Pemecahan/ penyelesaian persoalan 10%
Inovasi (metode dan fakta) 15%
Penerapan (penyelenggaraan transfer) 15%
Kelengkapan (perhatian pada keutuhan) 10%
Pertimbangan terhadap literatur yang ada 10%
Struktur dan penggunaan istilah 5%
Kesimpulan yang tepat 10%
Susunan (gambar, tabel dan teks) 5%
Bahasa (tata bahasa dan gaya bahasa) 10%
Penilaian Total 100%

Berdasarkan pemaparan karakteristik, jenis, dan komponen penilaian makalah ilmiah, dapat disimpulkan bahwa karakteristik makalah ilmiah dalam perkuliahan meliputi hasil kajian literatur dan kegiatan lapangan sesuai dengan cakupan permasalahan suatu perkuliahan dan menerapkan suatu teori yang berhubungan dengan perkuliahan dan mendemonstrasikan kemampuan meramu berbagai sumber informasi dalam satu kesatuan sintaksis yang utuh dalam bentuk penulisan makalah ilmiah yang baik dan benar sehingga yang terdapat dalam makalah tersebut dapat diberi penilaian. Komponen penilaian makalah ilmiah yang dikutip dari Frick (2008:51) dimodifikasi kembali sesuai kebutuhan penelitian dalam perkuliahan. Komponen makalah ilmiah untuk keperluan penugasan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Penilaian Makalah Ilmiah untuk Keperluan Penugasan
Penilaian Makalah Ilmiah Nilai Bobot Nilai Akhir
Keilmuan (mutu, substansi) 20%
Cara Pemecahan/ penyelesaian persoalan 20%
Pertimbangan terhadap literatur yang ada 20%
Kesimpulan yang tepat 20%
Bahasa (tata bahasa dan gaya bahasa) 20%
Penilaian Total 100%

Modifikasi penilaian makalah ilmiah tersebut dijadikan sebagai indikator penilaian tes unjuk kerja menulis makalah. Hal tersebut berdasarkan karakteristik makalah ilmiah dalam perkuliahan meliputi hasil kajian literatur dan kegiatan lapangan sesuai dengan cakupan permasalahan suatu perkuliahan dan menerapkan suatu teori yang berhubungan dengan perkuliahan. Teori tersebut menggambarkan kemampuan meramu berbagai sumber informasi dalam satu kesatuan sintaksis yang utuh dalam bentuk penulisan makalah ilmiah yang baik dan benar, maka yang terdapat dalam makalah tersebut dapat diberi penilaian.
Aspek keilmuan dalam penilaian makalah meliputi metode yang digunakan, pendekatan ilmiah, tujuan dan maksud yang terkandung dalam makalah tersebut. Aspek cara pemecahan/penyelesaian persoalan dalam makalah meliputi unsur makalah yang dikerjakan menunjukkan penemuan baru, yang berbeda dari yang sudah ada, atau jika sudah dikenal sebelumnya, digunakan gagasan metode atau hubungan yang baru. Aspek pertimbangan terhadap literatur yang ada berkaitan dengan kelengkapan unsur yang terdapat dalam makalah tersebut dan memerhatikan literatur yang relevan dan bersangkutan.
Aspek kesimpulan yang tepat meliputi aspek pembuktian dapat ditinjau ulang dari penilaian hasil penelitian. Sedangkan aspek bahasa meliputi gaya bahasa (perasaan bahasa, singkat, dan padat), memerhatikan aturan bahasa (penggunaan istilah yang tepat), tata bahasa dan ortografi. Kelima aspek tersebut akan menjadi indikator dalam penilaian tes unjuk kerja pembuatan makalah dengan metode kooperatif tipe Jigsaw pada penelitian ini.
2. Mata Kuliah Pengembangan Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia 1
Mata kuliah Pengembangan Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia 1 (PMPBI 1) jenjang sekolah dasar (SD) atau madrasah ibtidaiyah (MI) merupakan pembelajaran yang paling utama, terutama di SD kelas rendah (kelas I dan II). Melalui mata kuliah ini, calon guru dapat mengaplikasikan ilmunya pada jenjang madrasah ibtidaiyah atau jenjang sekolah dasar ketika mereka telah memenuhi syarat menjadi seorang guru, dengan cara mengaplikasikan materi pembelajaran bahasa yang dipelajari pada mata kuliah PMPBI 1. Mahasiswa dapat menimba ilmu pengetahuan, teknologi, seni, serta informasi yang ditularkan saat dia akan menjadi pendidik.
Proses tersebut terjadi sejak awal belajar di sekolah. Mencermati hal itu, maka calon guru sebagai pelaksana dan pengelola pembelajaran di sekolah, dituntut untuk dapat merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi aspek-aspek yang tercakup dalam aspek pembelajaran bahasa Indonesia. Santosa (2006:106) memaparkan bahwa untuk mencapai kompetensi hasil belajar Bahasa Indonesia dalam kurikulum telah dirumuskan secara nasional, maka pembelajaran Bahasa Indonesia dikembangkan melalui empat aspek keterampilan utama Bahasa Indonesia. Keterampilan tersebut meliputi menyimak, berbicara, membaca dan menulis dan dua aspek keterampilan penunjang yakni kebahasaan dan apesiasi bahasa dan sastra Indonesia, yang dalam pelaksanaannya, aspek-aspek itu dijadikan fokus dalam setiap pertemuan.
Pembelajaran bahasa Indonesia di SD/MI yang dirancang calon guru atau guru itu sendiri, perlu dicermati betul fungsi dari keempat aspek utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, karena melalui keempat aspek keterampilan bahasa tersebut, seseorang dapat menyerap semua informasi (reseptif) dan seterusnya seseorang dapat menyampaikan hasil pikiran, ide-ide, penalaran produktif kepada orang lain melalui kemampuan berbicara secara lisan ataupun tertulis (melalui berbagai berbagai bentuk tulisan atau karya ilmiah). Kemampuan itu dapat dilakukan jika seseorang telah memiliki pengetahuan yang memadai tentang kebahasaan, kosakata yang cukup, serta didukung oleh sikap positif terhadap bahasa dan sastra. Pada dasarnya, keempat aspek keterampilan bahasa tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan ditunjang oleh dua aspek lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari hubungan berikut, mula-mula seseorang belajar bahasa dengan menyimak bahasa yang didengarnya dari lingkungan, kemudian berbicara. Sesudah itu, melalui pendidikan formal, seseorang baru belajar membaca dan menulis. Berarti bahasa seseorang mencerminkan pikirannya, dan keterampilan berbahasa diperoleh melalui praktik atau latihan, yang berarti juga melatih keterampilan berpikir. (Dawson et.al 1981 dalam Tarigan 1984 dalam Santosa, 2006:107).
Selain itu, Santosa (2006:110) juga memaparkan bahwa pembelajaran kebahasaan di SD sebenarnya belum diberikan secara khusus, seperti di SLTP, tetapi disajikan melalui konteks yang termasuk kebahasaan. Maksudnya, kebahasaan dapat disajikan melalui aspek membaca, pengucapan lafal yang benar, intonasi kalimat, dan lain-lain melalui aspek menulis, penggunaan imbuhan dalam kalimat, paragraf, penulisan ejaan yang benar, seperti yang dipelajari pada mata kuliah PMPBI 1 yang disajikan dalam bentuk makalah.
Melalui mata kuliah PMPBI 1, calon guru sebagai pengajar dan pendidik akan melalui tahap pembelajaran pengembangan materi empat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, menulis dan berbicara) dalam bentuk makalah. Keterampilan menulis makalah sangat diperlukan oleh calon guru dalam proses pembelajaran mata kuliah PMPBI 1 di Jurusan PGMI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Penilaian keterampilan menulis makalah dalam mata kuliah PMPBI 1 tersebut berkaitan dengan aspek yang dikemukakan Frick (2008:51) meliputi: keilmuan (mutu, substansi), cara pemecahan/ penyelesaian persoalan, pertimbangan terhadap literatur yang ada, kesimpulan yang tepat, bahasa (tata bahasa dan gaya bahasa), eyd.
3. Teknik Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw sebagai Metode Pembelajaran dalam Menulis Makalah pada Mata Kuliah PMPBI 1

Penelitian dalam kelas terhadap pengaruh pencapaian prestasi pembelajaran kooperatif, menurut Slavin (2009:41) terdapat dasar teoretis yang kuat untuk memprediksi bahwa metode-metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan tangung jawab individual akan meningkatkan pencapaian prestasi peserta didik. Walaupun demikian, sangat penting untuk melakukan penilaian metode-metode kooperatif ini langsung di dalam kelas pada saat periode realistis pengajaran berlangsung. Hal tersebut dilakukan untuk menentukan apakah memang memberikan pengaruh pada ukuran pencapaian prestasi mahasiswa.
Model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan tidak beraturan. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif. Roger dan David Johnson dalam Lie (2008:31) memaparkan bahwa tidak semua kerja kelompok dapat dianggap cooperative learning dan untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan, antara lain: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antaranggota, evaluasi proses kelompok.
Teknik Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Aronson et.al. sebagai metode Cooperative Learning. Lie (2008:69) memaparkan bahwa teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan ataupun berbicara. Sedangkan Slavin (1996:122) menyatakan bahwa The instructional “raw material” for Jigsaw should usually be a chapter, story, biography or similar narrative or descriptive material.
Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Dalam teknik ini, pengajar memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman mahasiswa dan membantu mahasiswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan keterampilan menulis. Dalam teknik ini terdapat kelompok ahli dan kelompok asal yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 1 Metode Kooperatif Tipe Jigsaw Sumber: (http:// imronfauzi.wordpress.com, diakses 29 Mei 2009).

Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Dalam kaitannya dengan kegiatan menulis, teknik pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw digunakan untuk tujuan peningkatan keterampilan menulis makalah - pada mata kuliah PMPBI 1.

a. Kebermaknaan Proses Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Peningkatan Keterampilan Pembelajaran Menulis Makalah pada Mata Kuliah PMPBI 1

Kebermaknaan proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam menulis makalah terletak pada pembahasan bahan ajar unsur-unsur makalah. Unsur-unsur makalah yang terdiri dari unsur berbentuk bab atau bagian, seperti bab pendahuluan, pembahasan, simpulan dan saran, serta penulisan daftar pustaka dipahami melalui proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Slavin (1994:63) yang mengatakan bahwa bahan ajar untuk Jigsaw biasanya merupakan sebuah bab, cerita, biografi, dan bahan deskriptif lainnya.
Proses pembelajaran menulis makalah ini didahului dengan pematangan mahasiswa dalam memahami konsep unsur-unsur bab pendahuluan, pembahasan, simpulan dan saran, serta daftar pustaka yang terdapat dalam makalah pada mata kuliah PMPBI 1. Proses pemahaman dan pematangan konsep unsur-unsur yang terdapat dalam makalah tersebut dilakukan dengan menggunakan langkah pembelajaran metode diskusi kelompok ahli dan kelompok asal, sesuai dengan langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hal itu sejalan dengan pernyataan Slavin (1994:63) yang memaparkan bahwa Jigsaw paling cocok diterapkan pada mata pelajaran ilmu-ilmu sosial, sastra, beberapa bagian sains, dan bidang studi lain yang tujuannya lebih menekankan konsep daripada keterampilan. Pada dasarnya pembelajaran menulis makalah pada mata kuliah PMPBI 1 ini didahului dengan pematangan mahasiswa Jurusan PGMI Semester IA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau dalam memahami konsep unsur-unsur bab yang terdapat dalam makalah dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Mahasiswa yang telah melalui tahap pembelajaran tersebut akan melalui tahap proses keterampilan menulis makalah pada mata kuliah PMPBI 1.
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetensi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1995: 122). Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et.al (2000) dalam http.imronfauzi.wordpress.com. diakses 29 Mei 2009), yaitu:
1. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif, meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa atau mahasiswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
3. Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

b. Kelebihan dan Kekurangan Metode Kooperatif Tipe Jigsaw
Pelaksanaan pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi, tidaklah selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Begitu juga halnya dengan metode kooperatif tipe Jigsaw. Metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya di kelas.
Jigsaw dapat digunakan apabila bahan yang dipelajari berbentuk naratif tertulis. Jigsaw paling sesuai diterapkan pada mata pelajaran ilmu sosial, sastra, beberapa bagian sains, dan bidang studi lain yang tujuannya lebih menekankan konsep daripada keterampilan. Bahan ajar untuk Jigsaw ini biasanya merupakan bab, cerita, biografi, dan bahan deskriptif lainnya (Slavin, 1994:63).
Dalam Jigsaw ini, mahasiswa bekerja dalam tim-tim heterogen seperti pada STAD dan TGT. Mahasiswa ditugasi mempelajari bab atau bahan-bahan untuk dibaca, dan diberikan “Lembar ahli” yang berisi topik yang berbeda untuk anggota setiap tim agar pada saat membaca dapat memfokus pada topik tersebut. Apabila setiap orang telah selesai membaca, mahasiswa dari tim berbeda dengan topik yang sama bertemu dalam sebuah “kelompok ahli” untuk membahas topik mereka. Para ahli ini kemudian kembali ke tim asal mereka untuk mengajar teman satu timnya tentang topik-topik “keahlian mereka”. Akhirnya mahasiswa diberi kuis tentang seluruh topik, dan skor kuis tersebut menjadi skor tim.
Skor-skor yang disumbangkan oleh mahasiswa pada tim mereka didasarkan pada sistem skor perbaikan individual, dan mahasiswa pada tim dengan skor tinggi dapat diberi sertifikat atau nama-nama mereka diumumkan pada papan buletin. Dengan cara ini diharapkan mahasiswa termotivasi untuk belajar bahan ajar tersebut dengan baik. Kunci keberhasilan Jigsaw adalah saling ketergantungan, yaitu setiap mahasiswa bergantung kepada anggota timnya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya agar dapat mengerjakan kuis atau tes unjuk kerja dengan baik. Hal-hal yang dijelaskan tersebut dapat dikategorikan sebagai kelebihan metode kooperatif tipe Jigsaw.
Kekurangan metode kooperatif tipe Jigsaw terletak pada masalah-masalah yang terjadi pada presentasi tim kelompok ahli atau kelompok asal. Presentasi tim dalam Jigsaw begitu terstruktur sehingga biasanya hanya terjadi masalah kecil, seperti tidak cukupnya waktu yang digunakan dalam presentasi, kecuali mereka mendapat pembatasan waktu yang ketat untuk setiap presentasi sehingga mereka tidak merasa kekurangan waktu. Selain itu, kelompok-kelompok ahli jauh kurang terstruktur, jadi cenderung lebih mengundang masalah. Apabila mahasiswa tampak tidak menggunakan waktu yang disediakan untuk diskusi kelompok ahli dengan baik, solusi umumnya adalah memberlakukan mekanisme yang lebih terstruktur.
Beberapa tenaga pengajar menyediakan sejumlah topik diskusi untuk kelompok ahli dan meminta pemimpin kelompok ahli tersebut untuk menghimbau mahasiswa agar berperan serta dalam tiap diskusi. Cara lain agar membuat kelompok-kelompok ahli lebih efektif adalah meminta asisten atau mahasiswa yang lebih dewasa bertindak sebagai pemimpin diskusi.
Ketidakhadiran merupakan suatu masalah khusus dalam Jigsaw karena kehadiran lengkap sangat penting agar setiap tim memiliki seorang pakar untuk setiap topik. Satu cara untuk mengatasi ketidakhadiran yang serius adalah membuat tim enam-anggota dan meminta mahasiswa bekerja pada tiap tiga topik secara berpasangan. Solusi lain adalah membuat bacaan sangat singkat, sehingga mahasiswa dapat membaca bahan topik dengan tuntas, mendiskusikan topik-topik dalam kelompok ahlinya dan mengerjakan kuisnya seluruhnya dalam periode kelas yang sama. Akhirnya, untuk dapat mengurangi banyak topik untuk tim empat atau lima orang, usahakan agar ada paling sedikit tiga siswa hadir untuk mengambil topik-topik tersebut. Beberapa uraian tersebut merupakan beberapa kekurangan metode kooperatif tipe Jigsaw.

B. Penelitian yang Relevan
Nini Sumarlin (2008) melakukan penelitian dengan judul Peningkatan Pertisipasi dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia melalui Teknik Kooperatif Model Jigsaw di SMPN I Kubung Kabupaten Solok. Dalam hasil penelitiannya ditemukan bahwa penggunaan teknik kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian yang sama, juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Desiwarni (2004) dengan judul Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, dalam penelitiannya ditemukan bahwa penggunaan teknik kooperatif tipe Jigsaw dapat memengaruhi efektivitas pembelajaran ilmu pengetahuan sosial. Penelitian ini berbeda dengan penelitian Nini Sumarlin dan Desiwarni. Perbedaannya terletak pada fokus peneltian. Penelitian ini memfokuskan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk pembelajaran menulis makalah ilmiah, sedangkan pada penelitian Nini Sumarlin menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai penelitian tindakan kelas untuk melihat efektivitas pembelajaran, partisipasi dan hasil belajar bahasa dan sastra Indonesia. Kemudian Yusmerita (2005) mencoba menerapkan Kooperatif Tipe Jigsaw di Jurusan KK FT UNP untuk melihat peningkatan hasil belajar mahasiswa pada Mata Kuliah Desain Busana I.
Selain dilakukan di sekolah, penelitian tindakan kelas juga dilakukan beberapa peneliti di perguruan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mahasiswa. Penelitian tersebut antara lain berjudul (1) Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Berbantuan Reviu Pokok Bahasan untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Mahasiswa dalam Matakuliah Teknologi Air dan Pengolahan Limbah Industri oleh I Nyoman Gunamanta dan I Nyoman Sukarta, Jurusan Analisis Kimia tahun 2006 Lemlit IKIP Negeri Singaraja, (2) Pembelajaran Kooperatif Jigsaw II – Metode untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika pada Mahasiswa Jurusan Matematika Universitas Negeri Surabaya oleh Scolastica Mariani tahun 2008, (3) Peningkatan Kualitas Pembelajaran Kimia Dasar I Pokok Bahasan Kesetimbangan Kimia dengan Pendekatan Konstruktivisme Model Kooperatif Tipe Jigsaw II di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya oleh Titik Taufiqqurrahman tahun 2008, (4) Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Pemahaman Mahasiswa Pendidikan Kimia tentang Teknokimia melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw oleh Purnamaningsih tahun 2007, (5) Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Mahasiswa PGSD dengan Model Kooperatif Tipe Jigsaw oleh Mursal Dalais tahun 2009 pada Program Pascasarjana UNP.
Penelitian yang dilakukan ini berbeda dengan beberapa penelitian yang telah dirincikan sebelumnya. Perbedaannya terletak pada masalah, fokus, dan objek penelitian, namun metode yang digunakan sebagai pemecahan masalah memiliki persamaan, yaitu menerapkan metode kooperatif tipe Jigsaw. Penelitian ini memfokuskan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk meningkatkan pembelajaran menulis makalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau pada mata kuliah pengembangan materi pembelajaran bahasa Indonesia 1.
C. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual dalam penelitian ini terdiri dari tiga bagian. Bagian tersebut meliputi masalah, pemecahan masalah dan hasil yang diharapkan. Masalah dalam penelitian ini meliputi keterampilan menulis makalah dan pemahaman unsur yang terdapat dalam makalah mahasiswa Jurusan PGMI Semester IA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau dalam pembelajaran menulis makalah masih rendah. Pemecahan masalah diperlukan untuk mengatasi hal tersebut, yaitu dengan menerapkan teknik kooperatif tipe Jigsaw. Penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw yang terdiri dari indikator: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antaranggota, dan evaluasi proses kelompok, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menulis makalah mahasiswa PGMI semester IA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau melalui indikator penilaian makalah meliputi unsur keilmuan (mutu, substansi), cara pemecahan atau penyelesaian persoalan, pertimbangan terhadap literatur yang ada dan penulisan daftar pustaka, kesimpulan yang tepat, bahasa (tata bahasa dan gaya bahasa), eyd. Secara jelas, kerangka konseptual dapat digambarkan sebagai berikut.


































Bagan 2 Kerangka Konseptual Penelitian Pembelajaran Menulis Makalah dengan menggunakan Metode Kooperatif Tipe Jigsaw


D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan tujuan penelitian yang dijelaskan pada Bab I kemudian dikaitkan dengan kajian pustaka, maka hipotesis tindakan yang diajukan adalah sebagai berikut:
1. Metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan keterampilan menulis makalah mahasiswa Jurusan PGMI Kelas IA Semester Juli-Desember 2009 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau pada mata kuliah PMPBI 1.
2. Faktor-faktor yang terdapat dalam metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat memengaruhi perubahan atau peningkatan keterampilan menulis makalah pada mata kuliah PMPBI 1 untuk mahasiswa Jurusan PGMI Kelas IA Semester Juli-Desember 2009 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau.