Minggu, 07 Maret 2010

PENALARAN DALAM KARANGAN MAHASISWA TINGKAT AWAL

PADA MKDU KEMAMPUAN BAHASA INDONESIA DI PERGURUAN TINGGI ( SUATU KAJIAN DAN ANALISIS WACANA TULIS )

Eka Rihan .K / 10822

Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Padang

Abstrak

Artikel ini membahas mengenai pandangan dari beberapa point dan sudut pandang yang sangat penting dan harus diterapkan secara intensif dan berkelanjutan pada mahasiswa semester satu di Indonesia untuk tujuan akademik pada level dan tingkat universitas. Pandangan dalam artikel ini terdiri dari pemaparan pembelajaran bahasa Indonesia untuk tujuan akademis, ragam bahasa yang efisien dan efektif, penalaran dalam karangan, bangun karangan beserta contoh salah nalar yang ditemukan dalam karangan mahasiswa dalam proses pembelajaran di ruang kelas saat materi karangan disajikan dalam MKDU Kemampuan Bahasa Indonesia diberikan pada semester awal atau tingkat awal.

1. PENDAHULUAN

Bahasa Indonesia untuk tujuan akademik berhubungan dengan kecakapan dan keterampilan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang disyaratkan untuk maksud dan tujuan studi di perguruan tinggi (Robinson 1988 dan Swales 1985 dalam Moeliono, 209 :2004). Bahasa Indonesia untuk tujuan akademis (BITA) merupakan ancangan mempelajari bahasa Indonesia dengan bertolak dari kebutuhan mahasiswa agar dapat berkomunikasi dengan memadai dalam situasi sasaran, yaitu situasi akademik. Situasi sasaran itu perlu diidentifikasi fitur dan bentuk kebahasaannya yang mencoraki situasi itu.

Proses identifikasi fitur dan bentuk kebahasaan yang mencoraki situasi akademis itu disebut analisis kebutuhan atau analisis situasi sasaran. Menurut Widdowson (1981) dalam Moeliono, 209:2004), kebutuhan itu dapat mengacu ke lima konsep yang berbeda, tetapi berhubungan : (1) kebutuhan dapat mengacu ke sasaran yang harus dicapai mahasiswa, (2) kebutuhan dapat mengacu ke apa yang dipandang perlu oleh lembaga pengguna lulusan kuliah itu,(3) kebutuhan dapat mengacu ke usaha yang perlu dilakukan mahasiswa untuk memahiri BITA itu, (4) kebutuhan dapat mempunyai tafsiran apa yang oleh mahasiswa sendiri ingin dicapai dengan mata kuliah itu, (5) kebutuhan dapat berarti apa yang tidak diketahui atau yang kurang mampu dilakukan mahasiswa. Dengan kata lain, ada kebutuhan sasaran yang mencakup kemahiran yang diperlukan dalam situasi sasaran, dan kebutuhan pelajaran, yaitu apa yang perlu dilakukan mahasiswa untuk dapat belajar. Yang jelas, BITA bukan kuliah bahasa bagi pemula. Mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini sekurang-kurangnya sudah sembilan tahun mempelajari bahasa Indonesia.

Cakupan BITA dari jurusan kemahiran bahasa, sama dengan pengajaran bahasa Indonesia umum, yakni menyimak dan membaca serta berbicara dan menulis. Yang berbeda adalah macam ragam keterampilan dalam konteks akademis. Masalah yang berhubungan dengan menyimak kuliah atau ceramah ialah pembuatan catatan dengan cepat yang juga diperlukan dalam membaca kepustakaan. Mahasiswa perlu diajari membuat catatan parafrasa, yakni pernyataan ulang tentang gagasan pengarang sumber dengan menggunakan kata, sintaksis dan gaya mahasiswa sendiri. Panjangnya kira-kira sama dengan teks asli. Selanjutnya, mahasiswa perlu dibiasakan membuat catatan rangkuman yang mencakup informasi pokok dan penting dalam teks sumber atau wacana. Tambahan lagi, mahasiswa perlu dimahirkan membuat kutipan langsung yang merekam dengan cermat semua kata dan pungtuasi dalam teks sumber. Membaca dalam BITA berhubungan dengan mengumpulkan informasi lewat pelayapan (skimming) dan pemindaian (scanning).

Belajar menulis dan mengarang dalam BITA merupakan kemahiran produktif yang kurang berkembang. Komunikasi lisan dalam BITA terabaikan karena dianggap kemahiran yang paling sedikit dibutuhkan. Padahal, kefasihan berbicara sangat penting tentang pengusaan bahasa per orang. Karena mengarang dalam BITA dianggap kebutuhan yang paling penting tetapi justru jarang dilatihkan. Di dalam artikel ini selanjutnya akan dipaparkan seluk beluk penyusunan karangan ilmiah. Paparan ini diawali dengan gambaran apa yang disebut dengan ragam bahasa yang efisien dan efektif. Kemudian peran penalaran dalam karangan dikemukakan agar proses berpikir secara logis menjadi nyata. Setelah itu akan dibahas mengenai bangun karangan.

2. PEMBAHASAN

2.1 RAGAM BAHASA YANG EFISIEN DAN EFEKTIF

Bahasa yang efisien adalah bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku, dengan mempertimbangkan kehematan katadan ungkapan. Aturan baku atau norma bahasa itu menjadi ukuran umum yang mengatasi variasi dialek atau perseorangan, bagi pemakaian bahasa yang betul dan yang patut menjadi contoh untuk diikuti. Bahasa yang efektif adalah bahasa yang mencapai sasaran yang dimaksudkan. Bahasa yang efektif adalah bahasa yang membuahkan efek atau hasil yang diharapkan pembicara karena cocok dengan peristiwa atau sesuai dengan keadaan yang menjadi latarnya. Di dalam komunikasi ujaran atau tulisan akademis dapat dimasukkan empat golongan:

  1. paparan atau eksposisi, yang bertujuan memberikan informasi, penjelasan, atau pemahaman;
  2. bahasan atau argumentasi, yang bertujuan meyakinkan orang, membuktikan pendapat atau pendirian, ataupun membujuk orang agar mau menerima pernyataan atau uraian;
  3. kisahan atau narasi, yang sifatnya bercerita, baik berdasarkan pengamatan maupun berdasarkan perekaan, dan
  4. perian tau deskripsi, yang menggambarkan suasana dan alam sekitar yang sifatnya lebih banyakmengimbau pada pancaindera (Kramer et al. 1995 dalam Moeliono, 2004:211).

Tujuan utama eksposisi adalah pemberian informasi secara lengkap dan wajar. Karena itu, jenis paparan yang baik adalah pemakaian bahasanya yang jernih, ringkas dan lugas. Bahasan argumentatif dapat didengar dan dibaca dalam perdebatan dan karangan. Karena di dalam argumentasi kita terikat pada argumen, atau alasan pendapat harus dijaga agar kita tidak melepaskan kembali penalaran, pada saat membujuk orang atau mengajukan pendapat. Maksud narasi adalah membuat cerita, mengisahkan secara berturut-turut suatu rangkaian peristiwa. Narasi ialah bentuk wacana yang paling lazim dipakai jika kita hendak menarik minat. Lewat perian atau deskripsi penyusunnya bermaksud agar khalayaknya dapat ikut melihat, mendengar atau merasa apa yang dilihat, didengar, atau dirasakan sendiri oleh penulis. Deskripsi atau perian sering dikombinasi dengan paparan, bahasan,dan lebih lagi dengan kisahan. Deskripsi dapat tertuang dalam dua bentuk: (1) deskripsi yang objektif atau teknis, dan (2) deskripsi sugestif atau impresionistik. Deskripsi objektif menuntut dari penulis/pembicara memberikan gambaran seakan-akan seperti gambar foto. Di dalam deskripsi sugestif, selain keterangan yang objektif, juga terungkap sikap emosional atau penilaian subjektif. Di dalam wacana ekspositoris dan argumentatif, peran penalaran sangat penting. Simpulan data yang ditemukan atau dari bahan bukti dapat diperolah lewat penalaran induktif, yang berawal dari yang khusus atau spesifik dan berakhir pada yang umum, dan penalaran deduktif yang bertolak dari kebenaran yang umum menuju ke simpulan yang khusus.

2.2 PENALARAN DALAM KARANGAN MAHASISWA TINGKAT AWAL

Di dalam karangan paparan dan persuasi, peranan logika sangat penting. Logika artinya bernalar; penalaran (reasoning) adalah proses mengambil simpulan (conclusion, inference) dari bahan bukti atau petunjuk (evidence), atau yang dianggap bahan bukti atau petunjuk. Secara umum ada dua jalan untuk mengambil simpulan: lewat induksi dan lewat deduksi. Induksi dapat ditafsirkan sebagai penalaran yang berawal pada yang khusus atau spesifik dan berakhir pada yang umum. Simpulan induktif selalu berupa generalisasi atau perampatan; artinya pernyataan itu selalu meliputi sejumlah besar peristiwa yang khusus. Banyak generalisasi induktif berdasarkan fakta, tetapi banyak juga yang hanya berdasarkan asumsi atau andaian. Andaian itu ialah fakta atau pernyataan yang dianggap benar walaupun belum atau tidak dapat dibuktikan. Pada induksi, kita mengamati sejumlah peristiwa khusus dan kemudian mengambil simpulan yang berupa generalisasi yang berlaku atas kejadian yang disaksikan itu dan kira-kira juga akan berlaku pada peristiwa yang sejenis pada waktu yang akan datang. Generalisasi induktif sering diperkuat oleh contoh, perincian, penjelasan, pengkhususan, atau ilustrasi. Generalisasi yang berdasar cita rasa orang, atau keyakinan subjektif, tidak dapat disanggah atau dibuktikan salah tidaknya.

Misalnya : Orang jujur akan selamat.

Tuhan menghukum orang jahat.

Logika deduktif ialah kebalikan logika induktif. Deduksi sering disebut penalaran dari yang umum ke yang khusus untuk mencapai simpulan. Jadi, proses deduksi berlangsung dalam tiga tahap, (1) generalisasi sebagai pangkal bertolak, (2) penerapan generalisasi pada kejadian tertentu, (3) simpulan deduktif yang berlaku bagi peristiwa khusus itu. Hampir setiap putusan atau simpulan yang kita ambil berdasar pada deduksi, sedangkan generalisasi yang kita gunakan sering kita peroleh lewat pengamatan atau eksperimen orang lain. Di dalam proses deduksi hendaknya diperhatikan bahwa pengandaian atau generalisasi yang salah akan menghasilkan simpulan yang salah juga walaupun penalaran kita benar. Penalaran deduksi namanya silogisme yang terjadi dari tiga bagian, premis mayor, premis minor, dan simpulan. Yang disebut premis adalah pernyataan atau proposition yang menjadi dasar bagi argumentasi. Proposisi ialah isi pokok pernyataan dalam bentuk kalimat deklaratif atau menyuguhkan sesuatu atau mengingkarinya sehingga dapat dinilai benar atau tidak benar. Proposisi selanjutnya, baik dalam bentuknya yang positif maupun yang negatif, mungkin benar, mungkin tidak benar, mungkin juga menyangsingkan.

Premis mayor : Suatu generalisasi yang meliputi semua unsur kategori, banyak diantaranya, atau hanya beberapa unsur saja.

Premis monor : Penyamaan suatu obyek atau ide dengan unsur yang dicakup oleh premis mayor.

Simpulan : Gagasan yang dihasilkan oleh penerapan generalisasi dalam premis mayor pada peristiwa yang khusus dalam premis minor.

Misalnya:

Mahasiswa ilmu pendidikan harus mengikuti mata kuliah filsafat

(A) (B) AàB

Saya mahasiswa ilmu pendidikan

(C) (A) CàA

Saya harus mengikuti mata kuliah filsafat

(C) (B) CàB

Sumber dan jenis ragam premis mayor yang mendasari simpulan deduktif, di samping generalisasi induktif, ialah tata nilai budaya, adat istiadat, agama, keyakinan, wawasan, telaah studi, politik, takhyul, dan pikiran sehat. Dalam paragraf yang bercorak penalaran induktif kalimat tumpuannya (topic sentence) biasanya berupa generalisasi induktif. Paragraf itu kemudian dikembangkan dengan hal yang khusus untuk menunjang perumusan itu. Dalam paragraf penalaran deduktif, kalimat topiknya biasanya suatu gagasan yang berupa simpulan silogisme, baik yang dinyatakan secara eksplisit maupun dengan implisit. Lazimnya, dalam paragraf seperti itu, premis mayor diandaikan saja dan tidak dinyatakan, sedangkan pengembangan paragraf akan berupa usaha membuktikan kesahihan premis minor.

2.3 SALAH NALAR

Salah nalar (fallacy) ialah gagasan, perkiraan atau simpulan yang keliru atau sesat. Pada salah nalar kita tidak mengikuti tata cara pemikiran dengan tepat. Telaah atas kesalahan itu membantu kita menemukan logika yang tidak masuk akal dalam tulisan. Di bawah ini ada sepuluh macam salah nalar yang telah ditemukan dalam karangan mahasiswa tingkat awal.

2.3.1 Deduksi yang Salah

Salah nalar yang amat lazim ialah simpulan yang salah dalam silogisme yang berpremis salah atau yang berpremis yang tidak memenuhi syarat.

Misalnya: Pengiriman manusia ke bulan hanya penghamburan. ( Premisnya: Semua eksperimen ke angkasa luar hanya penghamburan).

2.3.2 Generalisasi yang Terlalu Luas

Salah nalar ini disebut juga induksi yang salah karena jumlah percontohnya yang terbatas tidak mamadai. Harus dicatat bahwa kadang-kadang percontoh yang terbatas mengizinkan generalisasi yang sahih.

Misalnya : Orang Indonesia malas tetapi ramah. (Orang Indonesia ada yang malas dan ada juga yang tidak ramah).

2.3.3 Pemikiran ‘atau ini, atau itu’

Salah nalar ini berpangkal pada keinginan pada keinginan untuk masalah yang rumit dari dua sudut pandang (yang bertentangan) saja. Isi pernyataan itu jika tidak baik, tentu buruk; jika tidak betul, tentu salah: jika tidak putih, tentu hitam.

Misalnya : Petani harus bersekolah supaya terampil. (Apakah untuk menjadi terampil kita selalu harus bersekolah?)

2.3.4 Salah Nilai atas Penyebaban

Generalisasi induktif sering disusun berdasarkan pengamatan sebab dan akibat, tetapi kita kadang-kadang tidak menilai dengan tepat sebab suatu peristiwa atau hasil kejadian. Khususnya dalam hal yang menyangkut manusia, penentuan sebab dan akibat sulit sifatnya. Salah nilai atas penyebab yang lazim terjadi ialah salah nalar yang disebut post hoc, ergo propter hoc ‘sesudah itu, maka karena itu’.

Misalnya : Swie King jadi juara karena doa kita. (Lawan Swie King tentu juga didoakan para pendukungnya).

2.3.5 Analogi yang Salah

Analogi adalah usaha perbandingan dan merupakan upaya yang berguna untuk mengembangkan penalaran. Namun, analogi tidak membuktikan apa-apa dan analogi yang salah dapat menyesatkan karena logikanya salah.

Misalnya : Rektor harus memimpin universitas seperti jenderal memimpin divisi. (Universitas itu bukan tentara dengan disiplin tentara).

2.3.6 Penyimpangan Masalah

Salah nalar di sini terjadi jika argumentasi tidak mengenai pokok, atau jika kita menukar pokok masalah dengan pokok yang lain, ataupun jika kita menyeleweng dari garis.

Misalnya : Program Keluarga Berencana tidak perlu karena tanah di Kalimantan masih kosong (Manusia tidak bisa hidup dengan hanya memiliki tanah).

2.3.7 Pembenaran Masalah Lewat Pokok Sampingan

Salah nalar di sini muncul jika argumentasi menggunakan pokok yang tidak langsung berkaitan, atau yang remeh, untuk membenarkan pendiriannya. Misalnya, orang merasa kesalahannya dapat dibenarkan karena lawannya juga berbuat salah.

Misalnya : Saya boleh berkorupsi karena orang lain berkorupsi juga. (Korupsi dihalalkan karena banyaknya korupsi dimana-mana).

2.3.8 Argumentasi ad hominem

Salah nalar terjadi jika kita dalam argumentasi melawan orangnya dan bukan persoalannya. Khususnya di bidang politik, argumentasi jenis ini banyak dipakai.

Misalnya: Ia tidak mungkin pemimpin yang baik karena kekayaannya berlimpah. (Yang dipersoalkan bukan kepemimpinannya)

2.3.9 Imbauan pada Keahlian yang Disangsikan

Dalam pembahasan masalah, orang sering mengandalkan wibawa kalangan ahli untuk memperkuat argumentasinya. Mengutip pendapat seorang ahli sangat berguna walaupun kutipan itu tidak dapat membuktikan secara mutlak kebenaran pokok masalah. Misalnya : kita mengutip pendapat bintang film tentang pengembangan demokrasi.

2.3.10 Non Sequitur

Dalam argumentasi, salah nalar ini mengambil simpulan berdasarkan premis yang tidak, atau hampir tidak, ada sangkut pautnya.

Misalnya : Partai Rakyat Madani paling banyak cendekiawannya; karena itu usul-usulnya paling bermutu. (Tidak ada korelasi antara kecendekiaan dan kepandaian merumuskan usul).

2.4 BANGUN KARANGAN

Suatu karangan yang baik, apalagi yang bersifat ilmiah, memiliki bentuk yang baku. Ada ragangan yang dianut secara umum dan paragraf-paragraf pada tulisan pun bukannya tanpa bentuk atau aturan.

2.4.1 Ragangan (outline)

Peragangan adalah proses penggolongan dan penataan berbagai fakta, yang kadang-kadang berbeda jenis dan sifatnya, menjadi kesatuan yang berpautan. Tulisan yang menjadi hasilnya dapat disebut laporan, makalah, arikel, skripsi, tesis, atau disertasi. Tata susunan itu tidak terbatas pada karangan dalam arti umumnya saja. Paragraf dan kalimat pun harus disusun secara cermat sehingga proses penalaran dapat dipahami dengan lancer. Susunan karangan umumnya terdiri atas (1) pembuka atau pengantar, (2) penutup, dan (3) sejumlah gagasan pokok atau pokok inti di antara kedua bagian itu. dan (3) sejumlah gagasan pokok atau pokok inti di antara kedua bagian itu. Rangkaian gagasan pokok itulah yang mewujudkan struktur karangan (ragangan buram) lewat penataan dan pengembangan oleh penulis.

Metode penyusunan yang banyak dipakai dalam tulisan paparan atau bahasan ialah memperinci topik karangan atas sejumlah pokok inti. Topik itu mengungkapkan masalah pokok yang harus dibahas dalam makalah atau uraian. (Kata topic biasanya diterapkan pada karangan yang (agak) singkat. Untuk buku, masalah pokoknya disebut subjek. Topic harus dibedakan dari judul. Judul karangan itu penting karena harus mampu menarik perhatian pembaca, tatapi judul bukanlah dasar yang baik untuk menyusun karangan. Acapkali judul baru dipikirkan setelah karangan selesai disusun. Jadi, yang pertama-tama harus diusahakan dalam penulisan karangan ialah topik yang tegas dan bukan judul yang menarik. Penulis karangan harus mulai dengan topik yang cakupannya terbatas, yang mudah dapat dipahami, jika ia bermaksud agar susunan pokok pembicaraannya jadi jelas bagi pembacanya.

Pembuka dan penutup merupakan bagian susunan karangan karena keduanya menyangkut struktur atau tatanannya. Namun, pembukaan dan penutup tidak harus sama panjangnya dengan batang tubuh karangan dan bobotnya pun tidak harus sama berat. Pembuka yang efektif bertujuan mengantar pembaca dengan langsung ke tengah-tengah persoalan dengan menjelaskan topik karangan. Jadi, kuncinya ada pada isi topik. Pembuka harus dapat membangkitkan minat sehingga pembaca ingin membaca lanjutannya.

3. SIMPULAN DAN SARAN

Belajar menulis dan mengarang dalam BITA merupakan kemahiran produktif yang kurang berkembang. Komunikasi lisan dalam BITA terabaikan karena dianggap kemahiran yang paling sedikit dibutuhkan. Padahal, kefasihan berbicara sangat penting tentang pengusaan bahasa per orang. Mengarang dalam BITA juga dianggap kebutuhan yang paling penting tetapi justru jarang dilatihkan.

Di dalam karangan paparan dan persuasi, peranan logika sangat penting. Logika artinya bernalar; penalaran (reasoning) adalah proses mengambil simpulan (conclusion, inference) dari bahan bukti atau petunjuk (evidence), atau yang dianggap bahan bukti atau petunjuk. Secara umum ada dua jalan untuk mengambil simpulan: lewat induksi dan lewat deduksi. Deduksi dan induksi berkaitan dengan logika atau penalaran. Salah nalar (fallacy) ialah gagasan, perkiraan atau simpulan yang keliru atau sesat. Pada salah nalar kita tidak mengikuti tata cara pemikiran dengan tepat. Telaah atas kesalahan itu membantu kita menemukan logika yang tidak masuk akal dalam tulisan atau karangan. Mahasiswa perlu memahami aspek yang terkandung dalam penalaran sebelum membuat sebuah karangan agar terhindar dari salah nalar. Perlu dilakukan penelitian lebuh lanjut mengenai aspek kesalahan penalaran dalam karangan mahasiswa agar salah nalar minimal dapat dihindari.

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti. 1990. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Alwi, Hasan. 2001. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Moeliono, Anton M. 2004. “Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Tujuan Akademis”. Linguistik Indonesia – Jurnal Ilmiah Masyarakat Lingustik Indonesia, 22(2) : 209-226.

Surajiyo. 2007. Dasar-dasar Logika. Jakarta : Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar