Jumat, 02 Maret 2012

Jambore Nasional Bahasa dan Sastra 2011

Jambore Nasional Bahasa dan Sastra 2011
Oleh : Eka Rihan K.


Jambore Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia telah diadakan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, 29 November 2011 yang lalu. Acara yang dihadiri Wamendikbud Wiendu Nuryati itu berlangsung sepekan hingga 3 Desember dan diikuti 1000 peserta dari 33 provinsi yang merupakan duta bahasa provinsi, Siswa SMA/SMK, mahasiswa perguruan tinggi, pemuda, pemuda berkebutuhan khusus, pemerhati bahasa dan sastra dari seluruh Indonesia, guru, dosen, dan Palang Merah Indonesia. Disamping bertukar pikiran terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal dalam bahasa dan sastra, para peserta juga menampilkan kesenian dari daerah pada malam seni di tingkat kampung atau antar kampung. Kegiatan yang melibatkan peserta dari seluruh provinsi itu mendasari bahwa ini merupakan jambore nasional yang diikuti peserta dari Sabang sampai Merauke.
Momentum jambore ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan hanya dapat berfungsi sebagai penunjang perkembangan bahasa dan sastra Indonesia atau alat menyampaikan gagasan yang mendukung pembangunan Indonesia atau pengungkap pikiran, sikap, dan nilai-nilai yang berada dalam bingkai keindonesiaan. Bahasa Indonesia juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi politik, sosial, dan budaya, yang selanjutnya akan memberi sumbangan yang signifikan untuk membangun paradigma baru yang berjiwa Indonesia. Meskipun demikian, dewasa ini sikap dan kecintaan generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa, terhadap bahasa Indonesia seolah-olah menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan sikap dan semangat generasi muda menjelang dan awal kemerdekaan dahulu. Ketika itu, generasi muda memandang, bahwa bahasa Indonesia merupakan alat yang sangat penting dalam mencapai persatuan Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Kondisi sekarang, bahasa Indonesia tidak lebih dari sebagai alat komunikasi.
Kondisi penurunan pandangan generasi muda terhadap peran bahasa Indonesia itu disebabkan beberapa faktor, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, kondisi itu disebabkan kurangnya penggalian dan pemanfaatan nilai-nilai bahasa dan sastra. Secara eksternal, pandangan generasi muda dipengaruhi budaya dan bahasa asing, sehingga krisis karakter pun terjadi. Kondisi ini sangat bertentangan dengan beberapa pihak yang mengaku bahwa bahasa Indonesia sebagai lambang dan identitas bangsa dapat dijadikan sebagai perekat kesatuan dan persatuan nasional. Oleh sebab itu, bahasa Indonesia harus mampu mengembangkan peran sebagai media pembangun karakter bangsa demi martabat bangsa Indonesia dalam pergaulan lintas bangsa di dunia yang semakin mengglobal. Dalam konteks pembangunan karakter bangsa, posisi generasi muda sangat strategis karena merekalah yang akan mengemban estafet kepemimpinan bangsa pada masa kini dan masa depan. Lantas, siapakah yang lebih bertanggung jawab terhadap hal ini? Apakah hanya generasi muda, pemerhati bahasa dan sastra, guru atau dosen saja yang seharusnya lebih banyak berperan terhadap ini tanpa dukungan dan keterlibatan dari berbagai pihak?
Pelaksanaan Jambore Nasional Bahasa dan Sastra 2011 berlangsung sepekan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, baru-baru ini merupakan kegiatan yang baru pertama kali digelar dan akan menjadi agenda tahunan program Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, guna menjaga ketahanan bahasa dan budaya Indonesia di tengah arus globalisasi. Jambore ini mengangkat tema Penggalian dan Pemanfaatan Nilai-Nilai Bahasa dan Sastra dalam Membangun Karakter Bangsa. Tujuan acara tersebut, pertama, menumbuhkan rasa solidaritas generasi muda yang berorientasi terhadap lahirnya jiwa persatuan pada anak bangsa yang mampu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, menggali dan memformulasi kearifan lokal daerah menjadi karakter bangsa. Ketiga, meningkatkan sikap positif para peserta terhadap bahasa nasional sebagai lambang identitas bangsa Indonesia.
Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Yeyen Maryani, memaparkan bahwa tujuan kegiatan jambore ini untuk meningkatkan sikap positif masyarakat terhadap bahasa dan sastra kita. Era globalisasi mesti diantisipasi dengan meningkatkan kegiatan kebahasaan dan sastra kita. Melalui jambore ini, generasi muda dapat mengenal lebih dekat identitas dirinya untuk mempertahankan jati diri bangsa.
Menurutnya, kesejatian diri mereka melalui kearifan lokal dengan tetap mempertahankan bahasa daerah sebagai bagian bahasa Indonesia. Kearifan lokal termuat di Tanah Air masih tetap aktual di Bumi Pertiwi kita. Generasi muda sekarang kurang memahami ini dan dalam kegiatan jambore ini dicoba untuk digali kembali, kearifan lokal menjadi kearifan nasional dan itulah kearifan Indonesia. Forum jambore ini tidak terlalu formal. Sasarannya adalah masyarakat luas terdiri dari mahasiswa, karang taruna, anak jalanan, dan ada juga anak berkebutuhan khusus. Mereka diajak berdiskusi dan bergembira, saling kenal satu sama lain dari berbagai daerah dan suku bangsa di Nusantara. Mereka menjadi lebih paham betapa kayanya Indonesia.
Para peserta antusias ingin berkomitmen tetap menyatukan bahasa daerah melalui bahasa Indonesia. Mereka berniat jambore pertama ini tetap dilanjutkan sebagai wujud menjunjung tinggi Sumpah Pemuda. Jambore akan menjadi agenda tahunan program Badan Bahasa. Lantas apa kelanjutan pascajambore bagi peserta? Mereka tentu punya keinginan sepulang dari kegiatan jambore ini untuk menyosialisasikan kepada teman-teman mereka di daerah masing-masing, melalui pemberdayaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di daerah dan pemangku kepentingan setempat, untuk membangkitkan gerakan cinta bahasa Indonesia.
Mereka dapat berkumpul di tempat kegiatan pemuda dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Mereka pun telah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pentingnya bahasa sebagai alat pemersatu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Antaralain penertiban dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dalam media luar ruang, seperti papan nama, baliho, atau nama-nama perumahan yang cenderung menggunakan bahasa asing. Hal tersebut bukan larangan, tetapi lebih meminta ke pihak terkait untuk mengutamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama.
Setidaknya dengan adanya Kegiatan Jambore Nasional Bahasa dan Sastra 2011, tugas dan peran cukup berat yang selama ini diemban oleh pemerhati bahasa dan sastra, guru dan dosen, untuk memertahankan bahasa Indonesia dari pengaruh negatif globalisasi, dapat berkurang. Selain itu juga diharapkan agar kegiatan jambore ini tidak hanya sekedar seremonial bahasa, sastra dan kebudayaan belaka, sebagai wujud aktualisasi diri dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menjaga eksistensi bahasa Indonesia di tengah globalisasi. Ketahanan bahasa Indonesia di tengah serbuan bahasa asing dapat diwujudkan dengan pengembangan bahasa yang sesuai dengan kondisi masyarakat yang berkarakter. Semua itu membutuhkan kerja sama dan dukungan yang utuh dari semua pihak terkait, secara terus menerus dan konsisten.